Minggu, 10 April 2011

Lillaahi Ta`ala

Aku ingin sekali pergi ke tempat di mana orang lain tak pernah ke sana..
Melihat alam yang sejuk..
Bercengkerama dengan alam, burung-burung dan angin yang berhembus sedikit kencang..Aku ingin semua berjalan dengan biasa saja..
Dalam hatiku bertanya..
Kenapa aku ada?
Untuk apa aku ada?
Kenapa ada manusia sepertiku yang begitu bodoh,.
Tapi aku membuang jauh-jauh kata-kata dan perasaan itu..
Aku sadar aku masih harus berdiri dan menjalani hidupku yang tak berujung..
Biarlah Allah berkehendak..
Aku hanya menerima..
Tetapi, jika Allah ingin menuntaskan perjalananku di dunia ini hari ini..
di sini??!!
Aku ikhlas..
Aku pasrah..
Aku berserah..

Perang Bathin

Berawal dari duri kecil//menyucuk kepercayaan diri yang sedang mengerdil//pemulihanku yang nihil//dengan sedikit getaran yang menyentil//butuh sedikit waktu untuk bisa mematil//agar dapat keyakinan layaknya sang garuda yang terbang tinggi mementil//ringgsihkan semua kutil//yang menempel di bagian sikil//maka aku pun kan berdiri tegak penuh skill//

Semua rasa sakit ini akan terlepas//dan sayap-sayapku pun akan menghempas//maka pada saat itu aku akan terbang tinggi dengan bebas//kutu-kutu pun hilang bersama kulit mati-ku yang terkupas//bersamaan dengan alam yang brhias//kuhindari hawa panas dan ku-buang rasa malas//


Dimulai dengan kata optimis//aku dan prajuritku akan berbaris//untuk meraih kehidupan yang harmonis//dengan sedikit lapisan baju baja yang tipis//akan ku-hilangkan kata pesimis//yang pernah mengiris-iris//kehidupan-ku yang miris//


Perang-ku sudah dimulai//prajurit-ku pun takkan diam dengan santai//karena kami bukanlah gontai//yang hanya bisa mengintai//tanpa keberanian tiada capai//bisa jadi malah kami yang dibantai//


Dengan cekatan kubuat persiapan//penuh do`a dan harapan//agar kami siap tempur dengan penuh kekuatan//untuk melawan keputus asaan//dari-Mu-lah Tuhan//kami meminta perlindungan//kami mengemis pertolongan//agar kami bisa bertahan//agar kami bisa melawan//

IBU

Semua tentang Ibu tak dapat kulupakan..
Semasa hidup ku ingat Ibu..
Ibu.. Belas kasih sayangmu..
Kau curahkan padaku..
Bak mutiara laut..
Hilangkan rasa takut..
Kepadaku.. Sayangmu terlayang di awang..
Bentang hamparan, laut lepas maha bayang..
Kau tegar.. Ku sadar..
Angin tiup kencang dan sambar halilintar gundahkan hatimu gulana, Tak dampak kau ingkar!!
Semasih matahari sinari embun pagi..
Dan hembusan angin di buritan..
Mencoba kan ku selalu berbakti..
Hingga sampainya akhir hembusan..
Ibu.. Kau kukenang.. Kau kusayang..
Jangan kau bilang..
Jangan kau larang..
Kau kan terbang..
Tinggalku seorang..
Demi Ibu seorang.. Menggapai bintang..
Lagu tembang..
Sinar lembang..
Elok rupa kala Ibu senang..
Menembus penyap bayang,.
Menengkup bintang-bintang..
Kau carik maya..
Kau cabik suara..
Betapa berat dikau sukma..
Bawa ku berlayar menuju dalam cahya..
Dalam hening nafasmu.. Ibu..!!
Perlahan lagu lantunkan sayatan..
Adakah aku mau..
Melihatmu telah bermayat..
Sisipan do'a dengan urai air mata..
Bak celupan madu dalam sanubariku..
Kau harapkan daku bahagia..
Lihat ku dalam akhir kisahmu..

SAYATAN MIMPI


Aku merasakan uratku telah berhenti,
Mengalirkan darah dalam diri.
Detakkan jantung sudah tak berbunyi.
Semua hampa senyap sunyi.
Kupakai jubah putih.
Dengan perlahan ku melambung tinggi.
Dengan beberapa malaikat yang mengawali.
Menembus alam abadi.
Ku merasakan sakit yang menyayat.
Membakarku dalam neraka akhirat.
Lebur tubuhku mencair menjadi satu.
Tanpa butuh waktu lama utuh kembali hai tubuhku.
Semua itu terus terulang.
Sungguh tak kuat ku untuk menahan.
Ku tak berdaya tanpa perlawanan.
Hingga kumulai merasa menghilang.
Ketika kulihat sayup cahaya terang.
Kucuran keringat bagaikan darah.
Setengah sadarku kembali datang.
Dalam ketakutan aku merasa lelah.
Kini semua telah berlalu.
Kuhanya tinggal menunggu.
Waktu yang akan datang kepadaku.
Sosok malaikat yang menjemputku.

Beban Kegelapan

Oh, Tuhan. Betapa berat beban terpikul.

Oleh jiwa yang terpukul.

Menghentakkan bathinku.

Membentur dalam hati yang tumpul.

Oh, Tuhan. Betapa ringan bagiMu.

Mengubah suasana hati dan perasaanku.

Kau susul aku dengan sayangMu.

Memberi ketenangan dalam setiap nafasku.

Meski ku tak tahu esok kan bersinar atau tidak.

Meski ku tak tahu masihkah esok ku menapak.

Tapi, dalam sekali. Disini. Di lubuk hati sanubari ini.

Tersimpan semua yang Engkau berikan.

Tersimpan semua kebahagiaan.

Melebihi luas dan dalamnya lautan.

Tinggi melebihi gunung begitu langitan.

Tingkatan atas para dewa.

Terbawah dalam nyata.

Mungkin menjauh, dan berlalu.

Mungkin meragu, dan membatu.

Mungkin merapuh, dan lapuk.

Mungkin hilang, dan melayang.

Mungkin terbang, dan membayang.

Mungkin hayalan, dan harapan.

Mungkinkah terjadi sekarang?

Coba ku tuk mencapai kelapangan.

Dan, semua selalu coba ku tuk berbenah.

Menepi dalam pelabuhan nan begitu suci.

Meski semua akan punah.

Mohon ku padaMu untuk selalu menuntun dan menjaga diri ini.

Selamanya, sepanjang jalan kegelapan, menuju kesempurnaan dan puncak kebahagiaan, seluas kasih sayangMu yang telah dan akan Engkau beri, menuju terang.
Untukku dan kami.

Tebasan Halus Di Jiwa



Selamat jalan menuju bahagia




Layangkan cinta mencapai angkasa.




Perjuangkan dan duduklah dalam singgasana.



Agar tak ada lagi duka.



Tak ada lagi kecewa.



Tak ada lagi merana.



Tak ada lagi putus asa.



Tak ada lagi derita.



Aku akan tetap terjaga.



Hingga mega senja tiba.



Hingga semua tiada.


Dengan satu tebasan halus di jiwa.


Syair Kelam Setitik Noda Karam

Dengan lembut lantunkan kisah lalu. 

Tabir nyata cerita dahulu. Tenang 


ucapan tanpa beban. Di setitik noda 


kelam yang telah karam?! Oh,. Mana ku 


tahu... Sangatnya lah pasti dibenci. 


Akui sirami iri dalam hati. Kapan sadar 


menyesal. Seperti vonis mereka. sang 


lalat-lalat yang bahagia dalam nikmatnya cerita 


pagi. Tanpa bekas lalu pergi sendiri. 


Karena tak tuntut serius pikirkan 


tanjakan di depan. Leluasa tanpa berpikir 


esoknya. Karena waktu tak marah 


padanya dan mereka. Oh, sungguh iri-


nya jiwa. Menari bebas tanpa kekang 


sang Brahma. Dan kini, Puas nya sang 


lalat hanya menjadi syair kelam dengan 


setitik noda yang telah karam.





Hitam-Bergejolak-Cemburu-Jiwa-Kisah-Lalu

Ayo simpuhkan. Jangan melawan pikiran. Kini juri nilai-pun takkan punya pilihan. Karena pastinya kesalahan yang dilakukan. Bukti-bukti nyata dalam coretan hitam. Memang ada. Tapi,. Cepat pula, ketika terjadi pembiasan membuat-nya seolah hilang merubah pernyataan. Seekor belalang akan tenang jika ia berada di ladang dengan apa yang dibutuhkan. Ubah cerita dengan seekor ikan yang terdampar sekuat tenaga menuju perairan. Sesulit adaptasi dengan tanpa basa-basi. Tak sekilas lalu mengerti. Tak adanya intonasi. Nada-nada suara, warna, udara, dan cerita. Nyata adanya, samar nyatanya. Karena butuh dan ingin, kenyataan yang terbaik dari hasil sebuah mimpi, bukan janji keindahan palsu dari sisa hasil mimpi-mimpi, yang berubah dari keadaan lalu menjadi harus di situasi kehidupan hakiki.

Gemuruh Hati

Dimulai dari setetes air, Mengalir...
Pada sebuah kutub yang mencair.
Mendinginkan panas-nya gejolak murka.
Amarah! Berteriak!! Tapi akhirnya lelah letih.
Oh,.
Bagaimana beningnya embun pagi terkontaminasi?!
Hilang di-hembus semilirnya lantas pergi..
Bagaimana air suci dan murni di-ingkari.
Tanpa menggenggam erat tiang konsistensi.
Tanpa menghiraukan tombak konsekwensi.
Kesalahan-nya dan mereka ku-anggap pasir! Dihempas angin mudah seraya lalu.
Sedetik ku menoleh..
Warna putih-ku tertoreh.
Hitam yang menoda. Membuat ku sentak kagetkan hampa.
Ingat-ku dengan sebuah butir mutiara bening dari kata.
Ucapnya tusuk bathin merangkak jemput belahan jiwa.
Jika balasan-ku tak berarti lama.
Dengan trisula' kau tusuk-lah rasa murni yang bersemayam dalam sepi jiwa.
Aku, yang selalu menunggu mimpi itu dari-mu wahai dewi durga.